Tanggamus – Delikkasusnews.
Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Pekon Tegineneng, Kecamatan Limau, Kabupaten Tanggamus, kini tengah menjadi pusat perhatian publik. Proyek ambisius dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang menelan anggaran fantastis sebesar Rp 11.655.000.000 ini dinilai tidak sebanding dengan kualitas pengerjaan di lapangan.
Saat ini, proyek yang dikerjakan oleh PT Nara Tunas Karya tersebut telah memasuki tahap kedua, dengan fokus utama pada pembangunan tanggul penahan tebing sungai. Namun, alih-alih memberikan rasa aman bagi warga, proses pengerjaannya justru memicu kekhawatiran terkait ketahanan struktur bangunan.
Berdasarkan pantauan dan laporan masyarakat, terdapat beberapa poin krusial yang dianggap menyimpang dari standar teknis konstruksi:
Kualitas Material Rendah: Penggunaan pasir untuk campuran semen dinilai kurang layak dan tidak memenuhi standar gradasi yang baik untuk bangunan air.
Fondasi Tanpa Penggalian: Pengerjaan landasan dasar pondasi ditengarai dilakukan tanpa proses penggalian yang memadai. Hal ini membuat bangunan sangat rentan tergerus arus sungai (scouring) dan rawan ambrol saat debit air meningkat.
Pengadukan Semen Manual: Proses pencampuran material dilakukan secara manual tanpa menggunakan mesin pemutar (molen). Hal ini secara teknis sangat memengaruhi homogenitas dan mutu kekerasan struktur beton (K-Standard).
Seharusnya, dengan anggaran mencapai puluhan miliar rupiah, pembangunan infrastruktur di kawasan pesisir dan sungai wajib mengikuti petunjuk teknis (juknis) yang ketat. Berikut adalah narasi teknis ideal yang seharusnya diterapkan:
1. Analisis Hidrologi & Kedalaman Pondasi. Pondasi tanggul seharusnya ditanam jauh di bawah garis dasar sungai (depth of scour) untuk mencegah pergeseran struktur saat terjadi banjir. Penggalian adalah harga mati agar bangunan memiliki 'akar' yang kuat.
2. Standardisasi Mutu Beton
Sesuai aturan konstruksi modern, pengadukan material wajib menggunakan molen atau ready mix untuk memastikan rasio air, semen, dan agregat konsisten. Hal ini menjamin nilai kuat tekan beton tetap stabil dalam jangka panjang.
3. Seleksi Agregat Halus (Pasir)
Pasir yang digunakan harus bersih dari kandungan lumpur dan organik yang tinggi. Pasir berkualitas rendah akan membuat ikatan semen rapuh dan mudah retak dalam hitungan bulan.
Masyarakat Pekon Tegineneng berharap pihak pengawas dari KKP dan instansi terkait segera turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh. Warga menginginkan KNMP menjadi warisan infrastruktur yang bermanfaat jangka panjang, bukan sekadar proyek formalitas yang cepat rusak setelah serah terima.
"Kami tidak ingin uang negara belasan miliar terbuang percuma. Jika pondasi saja tidak digali dan semen diaduk asal-asalan, kami khawatir bangunan ini akan jebol ketika tergerus air," ujar salah satu warga setempat.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kontraktor PT Nara Tunas Karya belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan teknis yang disampaikan oleh masyarakat. (Red)


